
Kelebihan dan Kekurangan Samsung Galaxy S26+, Mendekati Ultra?
Di lini flagship Samsung, varian Plus selalu berada di posisi yang menarik. Ia bukan model dasar, tetapi juga belum masuk ke kasta Ultra. Posisi ini membuat Samsung Galaxy S26+ sering dianggap...
Di lini flagship Samsung, varian Plus selalu berada di posisi yang menarik. Ia bukan model dasar, tetapi juga belum masuk ke kasta Ultra. Posisi ini membuat Samsung Galaxy S26+ sering dianggap sebagai titik tengah paling ideal bagi pengguna yang ingin pengalaman flagship lebih lengkap tanpa harus membayar harga tertinggi.
Table Of Content
- Kelebihan Samsung Galaxy S26+
- 1. Exynos 2600 Jadi Fondasi Performa Baru
- 2. Galaxy AI Semakin Praktis untuk Aktivitas Harian
- 3. Kamera Masih Kompetitif dengan Horizontal Lock
- 4. Layar QHD+ dengan Panel LTPO AMOLED 2X
- 5. Baterai Besar dengan Fast Charging Lebih Baik
- 6. Samsung DeX Tetap Jadi Andalan Produktivitas
- 7. Sudah Mendukung Ultra WideBand (UWB)
- 8. Dukungan Update Android Hingga 7 Tahun
- 9. Desain Premium dengan Ergonomi Tetap Terjaga
- Kekurangan Samsung Galaxy S26+
- 10. Tidak Mendapat Privacy Display
- 11. Harga Dekat dengan Varian Ultra
- Kesimpulan
Pada generasi terbaru ini, Galaxy S26+ hadir dengan sejumlah pembaruan yang masih berfokus pada dua aspek utama: efisiensi performa dan pengembangan AI. Secara teknis, perangkat ini membawa banyak kesamaan dengan Galaxy S26 Ultra, mulai dari kualitas layar, fitur perangkat lunak, hingga konektivitas yang lebih lengkap dibanding model reguler.
Dengan harga mulai dari Rp19.500.000, Galaxy S26+ naik cukup jauh dibanding pendahulunya. Pertanyaannya, apakah peningkatan yang dibawa cukup sepadan? Berikut ulasan lengkap kelebihan dan kekurangan Samsung Galaxy S26+.
Kelebihan Samsung Galaxy S26+

1. Exynos 2600 Jadi Fondasi Performa Baru
Sama seperti model reguler, Samsung Galaxy S26+ di pasar Indonesia mengandalkan Exynos 2600 sebagai dapur pacunya. Chipset ini menjadi salah satu yang pertama memakai fabrikasi 2nm, sebuah pencapaian yang cukup penting dalam perkembangan prosesor mobile.
Fabrikasi yang lebih kecil memungkinkan peningkatan efisiensi daya dan distribusi panas yang lebih baik. Samsung mengklaim peningkatan performa hingga 40 persen dibanding generasi sebelumnya, terutama untuk skenario komputasi AI dan multitasking berat.
Arsitektur deca-core yang dipakai terdiri dari satu inti utama Cortex C-1 Ultra, tiga inti performa, dan enam inti efisiensi. Komposisi ini memberi fleksibilitas performa, baik untuk pekerjaan ringan maupun pemrosesan berat seperti gaming atau rendering video.
Dipadukan dengan RAM LPDDR5X 12GB dan storage UFS 4.1, Galaxy S26+ punya fondasi hardware yang cukup kuat untuk kelas flagship saat ini.
2. Galaxy AI Semakin Praktis untuk Aktivitas Harian
Samsung terus mengembangkan Galaxy AI sebagai salah satu fokus utama software mereka. Pada Galaxy S26+, pendekatan AI kini lebih kontekstual dan real-time.
Fitur baru seperti Now Nudge memungkinkan sistem membaca konteks percakapan aktif untuk memberikan rekomendasi yang relevan. Misalnya ketika pengguna sedang membicarakan foto tertentu, sistem bisa langsung memberikan shortcut ke file yang sesuai.
Pendekatan ini membuat interaksi dengan perangkat terasa lebih cepat karena pengguna tidak harus melakukan pencarian manual.
Now Brief juga tetap dipertahankan sebagai fitur yang membantu merangkum aktivitas dan rutinitas harian berdasarkan pola penggunaan. Sementara Bixby kini semakin terintegrasi untuk mengontrol perangkat dan aplikasi pihak ketiga secara lebih natural.
Ini menunjukkan bahwa Galaxy AI di S26+ tidak hanya menjadi fitur tambahan, tetapi mulai menjadi bagian inti pengalaman penggunaan.
3. Kamera Masih Kompetitif dengan Horizontal Lock
Konfigurasi kamera Galaxy S26+ masih mengandalkan formula yang familiar. Sensor utama 50MP tetap menjadi andalan, didukung sensor ultrawide 12MP dan telefoto 10MP.
Meski tidak ada perubahan besar dari sisi hardware, Samsung membawa peningkatan penting di software kamera, terutama lewat fitur Horizontal Lock.
Horizontal Lock adalah pengembangan dari fitur stabilisasi sebelumnya, dengan kemampuan menjaga orientasi horizon tetap stabil saat merekam video, bahkan ketika perangkat bergerak atau diputar cukup ekstrem.
Teknologi ini memanfaatkan sensor gyro dan akselerometer untuk membaca orientasi secara real-time, sehingga hasil video terlihat lebih stabil.
Untuk kebutuhan konten, Galaxy S26+ mendukung perekaman hingga 8K 30fps dan kamera depan hingga 4K 60fps. Zoom digital juga meningkat hingga 15x, meski kualitas mulai menurun saat pembesaran terlalu jauh.
Secara keseluruhan, kamera Galaxy S26+ tetap berada di level flagship kompetitif, terutama untuk pengguna yang fokus pada konten video.
4. Layar QHD+ dengan Panel LTPO AMOLED 2X
Salah satu pembeda utama antara Galaxy S26 dan Galaxy S26+ ada di sektor layar. Galaxy S26+ menggunakan panel Dynamic LTPO AMOLED 2X berukuran 6,7 inci dengan resolusi QHD+.
Resolusi ini memberi detail visual lebih tinggi dibanding model reguler yang masih Full HD+. Dengan refresh rate adaptif 1Hz hingga 120Hz, sistem bisa menyesuaikan kebutuhan refresh sesuai konten yang ditampilkan. Saat menampilkan gambar statis, refresh rate bisa turun untuk menghemat baterai.
Tingkat kecerahan hingga 2.600 nit juga membuat visibilitas outdoor tetap terjaga. Samsung masih mempertahankan proteksi Corning Gorilla Glass Victus 2 untuk menjaga ketahanan layar dari goresan dan benturan ringan.
5. Baterai Besar dengan Fast Charging Lebih Baik
Galaxy S26+ membawa baterai 4.900mAh, angka yang cukup besar untuk kelas flagship premium. Meski kapasitasnya tidak berubah dari generasi sebelumnya, efisiensi daya diklaim meningkat berkat chipset 2nm dan optimasi software. Samsung menyebut daya tahan video playback bisa mencapai 31 jam, sedikit lebih tinggi dari model reguler.
Dari sisi pengisian daya, Galaxy S26+ lebih unggul dibanding Galaxy S26 karena mendukung fast charging 45W. Ini memberi pengisian daya lebih cepat, dengan waktu kurang dari satu jam untuk pengisian penuh.Wireless charging 15W dan reverse wireless charging juga tetap tersedia, menjaga fleksibilitas penggunaan di ekosistem perangkat Samsung.
6. Samsung DeX Tetap Jadi Andalan Produktivitas
Samsung DeX masih menjadi fitur produktivitas khas Samsung. Dengan DeX, Galaxy S26+ bisa berubah menjadi desktop mini saat dihubungkan ke monitor eksternal. Dukungan keyboard dan mouse membuat aktivitas seperti mengetik dokumen, presentasi, hingga multitasking terasa lebih fleksibel.
Port USB Type-C 3.2 dengan dukungan DisplayPort memperkuat fungsi ini. Bagi pengguna yang sering bekerja mobile, fitur ini tetap menjadi nilai tambah.
7. Sudah Mendukung Ultra WideBand (UWB)
Salah satu keunggulan Galaxy S26+ dibanding model reguler adalah kehadiran teknologi Ultra WideBand (UWB). UWB adalah sistem komunikasi jarak dekat berbasis gelombang radio dengan tingkat akurasi tinggi untuk pelacakan posisi. Dalam ekosistem Samsung, fitur ini bekerja optimal dengan aksesori seperti Galaxy SmartTag untuk melacak barang secara presisi.
Selain itu, UWB juga bisa digunakan untuk fungsi digital key, seperti membuka kendaraan atau perangkat pintar lain melalui Samsung SmartThings. Kehadiran UWB membuat Galaxy S26+ lebih mendekati Galaxy S26 Ultra dalam hal fitur premium.
8. Dukungan Update Android Hingga 7 Tahun
Samsung tetap mempertahankan komitmen update panjang. Galaxy S26+ langsung menjalankan Android 16 dengan One UI 8.5 dan dijanjikan mendapat pembaruan Android hingga tujuh generasi.
Artinya, perangkat ini berpotensi mendapat update hingga Android 23. Untuk pengguna jangka panjang, dukungan software seperti ini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan nilai investasi perangkat.
9. Desain Premium dengan Ergonomi Tetap Terjaga
Dari sisi desain, Galaxy S26+ masih mempertahankan bahasa desain generasi sebelumnya dengan sedikit perubahan pada modul kamera.
Material kaca matte di bagian belakang tetap dipertahankan untuk memberi kesan premium sekaligus mengurangi bekas sidik jari. Samsung juga tetap memakai frame aluminium generasi kedua untuk meningkatkan durabilitas.
Dengan ketebalan 7,2mm, Galaxy S26+ masih terasa ramping untuk ukuran layar 6,7 inci. Sertifikasi IP68 juga memastikan ketahanan terhadap debu dan air hingga kedalaman 1,5 meter selama 30 menit.
Kekurangan Samsung Galaxy S26+

10. Tidak Mendapat Privacy Display
Salah satu fitur eksklusif yang tetap hanya tersedia di Samsung Galaxy S26 Ultra adalah Privacy Display. Fitur ini memungkinkan sudut pandang layar dipersempit sehingga isi layar hanya bisa dilihat secara frontal.
Untuk pengguna yang sering bekerja di tempat umum, fitur seperti ini cukup relevan karena membantu menjaga privasi informasi. Absennya Privacy Display di Galaxy S26+ menunjukkan Samsung masih menjaga diferensiasi fitur untuk model Ultra.
11. Harga Dekat dengan Varian Ultra
Secara positioning, Galaxy S26+ memang menawarkan banyak fitur premium. Namun dengan harga mulai Rp19,5 juta, jaraknya dengan varian Ultra menjadi cukup tipis.
Ini membuat sebagian calon pembeli mungkin mempertimbangkan untuk langsung naik ke model Ultra, terutama jika membutuhkan fitur tambahan seperti stylus, kamera lebih lengkap, baterai lebih besar, dan Privacy Display.
Dalam konteks value, Galaxy S26+ kadang berada di posisi yang sulit karena berada di tengah dua opsi ekstrem: model reguler yang lebih murah dan Ultra yang lebih lengkap.
Kesimpulan
Samsung Galaxy S26+ menjadi pilihan yang menarik bagi pengguna yang menginginkan pengalaman flagship lebih lengkap dibanding model reguler, tetapi belum merasa perlu masuk ke level Ultra.
Chipset Exynos 2600 dengan fabrikasi 2nm, layar QHD+, baterai besar, fitur UWB, Galaxy AI yang lebih matang, dan Samsung DeX menjadi kombinasi yang solid.
Namun posisi harganya yang cukup dekat dengan Galaxy S26 Ultra membuat keputusan pembelian menjadi lebih bergantung pada kebutuhan spesifik pengguna.
Jika kebutuhan utama ada pada layar besar, baterai lebih awet, dan fitur konektivitas lengkap, Galaxy S26+ adalah opsi yang masuk akal. Tetapi jika mengincar fitur eksklusif, model Ultra tetap menjadi pilihan yang lebih lengkap.




