
Dimensity 8500 Setara dengan Apa? ini Chipset Pesaingnya
MediaTek terus memperkuat dominasinya di pasar chipset Android dengan menghadirkan Dimensity 8500 pada awal 2026. Chipset ini dirancang sebagai solusi bagi pengguna yang menginginkan performa...
MediaTek terus memperkuat dominasinya di pasar chipset Android dengan menghadirkan Dimensity 8500 pada awal 2026. Chipset ini dirancang sebagai solusi bagi pengguna yang menginginkan performa mendekati flagship tanpa harus membeli smartphone dengan harga belasan juta rupiah. Posisi Dimensity 8500 berada tepat di antara lini flagship dan kelas menengah premium, menjadikannya salah satu chipset paling menarik di rentang harga Rp4–Rp6 jutaan.
Table Of Content
Chip ini pertama kali hadir melalui Honor Power 2 di Tiongkok dan kemudian masuk ke Indonesia melalui POCO X8 Pro. Kehadirannya langsung menarik perhatian karena mampu menghadirkan performa yang biasanya hanya ditemukan pada smartphone kelas atas.
Dibangun menggunakan fabrikasi 4nm TSMC, Dimensity 8500 mengusung desain CPU All-Big-Core berbasis Cortex-A725 dengan clock speed hingga 3,4 GHz. Pendekatan ini membuatnya mampu menghasilkan performa tinggi tanpa harus mengandalkan inti efisiensi tradisional. Sementara itu, sektor grafis ditangani GPU Mali-G720 yang telah ditingkatkan untuk mendukung kebutuhan gaming modern dan aplikasi berat.
Dalam pengujian sintetis, chipset ini mampu mencatatkan skor Geekbench 6 sebesar 1.709 poin untuk single-core dan 6.532 poin untuk multi-core. Untuk AnTuTu v11, skornya berada di kisaran 1,9 hingga 2,3 juta poin tergantung optimasi perangkat dan sistem pendingin yang digunakan.
Dengan performa seperti itu, chipset apa saja yang bisa dianggap setara atau paling mendekati Dimensity 8500? Berikut daftar lengkapnya.
Samsung Exynos 2400e

Jika berbicara soal chipset yang paling mendekati Dimensity 8500 secara keseluruhan, Exynos 2400e menjadi kandidat yang sangat kuat. Chip ini digunakan pada Samsung Galaxy S24 FE dan pada dasarnya merupakan versi yang sedikit dipangkas dari Exynos 2400 flagship.
Samsung tetap mempertahankan konfigurasi CPU 10-core yang terdiri dari satu inti Cortex-X4, lima inti Cortex-A720, dan empat inti Cortex-A520. Kombinasi tersebut menghasilkan performa yang sangat kompetitif, terutama untuk pekerjaan berat seperti gaming, multitasking, hingga pemrosesan foto berbasis AI.
Dalam benchmark Geekbench 6, Exynos 2400e mencatatkan skor single-core sekitar 2.146 poin dan multi-core 6.711 poin. Angka ini menempatkannya sedikit di atas Dimensity 8500, terutama pada performa single-core yang menjadi faktor penting dalam responsivitas sistem sehari-hari.
Selain itu, GPU Xclipse 940 berbasis AMD RDNA 3 memberikan nilai tambah tersendiri karena mendukung ray tracing berbasis hardware, fitur yang sebelumnya hanya ditemukan pada perangkat flagship premium.
Snapdragon 8s Gen 4

Qualcomm juga memiliki pesaing kuat melalui Snapdragon 8s Gen 4. Chipset ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman flagship dengan harga yang lebih terjangkau dan kini digunakan oleh beberapa smartphone populer seperti POCO F7 dan iQOO Neo 10.
Keunikan Snapdragon 8s Gen 4 terletak pada konfigurasi CPU-nya yang sepenuhnya berisi core performa tanpa inti efisiensi. Pendekatan ini membuat chipset mampu menjaga performa tinggi secara konsisten ketika menjalankan aplikasi berat maupun game kompetitif.
Pada pengujian Geekbench 6, Snapdragon 8s Gen 4 mampu menghasilkan skor single-core hingga 2.158 poin dan multi-core hampir menyentuh 7.000 poin. Sementara itu, skor AnTuTu v11 berada di kisaran 2 juta poin.
Dibandingkan Dimensity 8500, performa keduanya sangat berdekatan. Snapdragon 8s Gen 4 unggul pada optimalisasi aplikasi dan game yang lebih matang berkat ekosistem Qualcomm, sedangkan Dimensity 8500 mampu memberikan efisiensi daya yang kompetitif.
MediaTek Dimensity 8450

Dimensity 8450 bisa disebut sebagai pendahulu spiritual dari Dimensity 8500. Keduanya menggunakan pendekatan arsitektur yang hampir sama dengan konfigurasi CPU berbasis Cortex-A725 dan fabrikasi 4nm TSMC.
Perbedaannya terletak pada frekuensi yang sedikit lebih rendah pada Dimensity 8450. Hal ini membuat performanya berada satu tingkat di bawah Dimensity 8500, meskipun dalam penggunaan sehari-hari perbedaannya tidak terlalu terasa.
Pada perangkat seperti OPPO Reno14 Pro 5G, chipset ini mampu meraih skor Geekbench 6 sebesar 1.603 poin untuk single-core dan 6.268 poin untuk multi-core. Sementara skor AnTuTu v11 berada di kisaran 1,5 juta poin.
Karena memiliki DNA yang sangat mirip, Dimensity 8450 menjadi salah satu chipset yang paling mudah dibandingkan dengan Dimensity 8500, terutama untuk pengguna yang sedang mempertimbangkan smartphone kelas menengah premium.
Kirin 9030 Pro

Huawei melalui HiSilicon juga menghadirkan pesaing menarik lewat Kirin 9030 Pro. Chip ini menjadi simbol kebangkitan Huawei setelah berbagai keterbatasan teknologi yang dihadapi dalam beberapa tahun terakhir.
Kirin 9030 Pro menggunakan proses manufaktur N+3 dari SMIC dan mengandalkan arsitektur Taishan buatan Huawei sendiri. Meskipun secara teknis masih tertinggal dibanding TSMC, performa yang ditawarkan tetap sangat kompetitif.
Pada benchmark Geekbench 6, Kirin 9030 Pro mencatatkan skor single-core sekitar 1.795 poin dan multi-core 5.178 poin. Yang menarik, skor AnTuTu v11 mampu menembus angka 2 juta poin berkat optimalisasi HarmonyOS yang sangat terintegrasi dengan perangkat kerasnya.
Meski performa CPU murninya masih sedikit di bawah Dimensity 8500, pengalaman penggunaan secara keseluruhan tetap terasa cepat dan responsif, terutama pada perangkat Huawei terbaru.
Samsung Exynos 2400

Selain versi “e”, Samsung juga memiliki Exynos 2400 reguler yang masih menjadi salah satu chipset paling relevan untuk dibandingkan dengan Dimensity 8500. Chip ini digunakan pada Galaxy S24 dan beberapa varian Galaxy S25 FE.
Berbekal konfigurasi CPU 10-core serta GPU Xclipse 940 berbasis AMD RDNA 3, Exynos 2400 menawarkan keseimbangan antara performa CPU dan kemampuan grafis yang sangat baik.
Skor Geekbench 6 yang mencapai lebih dari 2.100 poin untuk single-core dan mendekati 7.000 poin untuk multi-core menunjukkan bahwa chipset ini masih berada di level flagship. Bahkan pada beberapa skenario gaming yang memanfaatkan ray tracing, Exynos 2400 mampu memberikan pengalaman visual yang lebih menarik dibanding Dimensity 8500.
Namun menariknya, dalam beberapa pengujian AnTuTu, Dimensity 8500 mampu tampil kompetitif berkat performa GPU Mali-G720 yang sangat agresif.
MediaTek Dimensity 9400e

Dimensity 9400e sebenarnya berada sedikit di atas Dimensity 8500, tetapi tetap layak masuk daftar karena rentang harga perangkat yang menggunakannya tidak terlalu jauh berbeda.
Chip ini mengandalkan empat inti Cortex-X4 yang membuat performa multi-core-nya sangat tinggi. Pada perangkat seperti realme GT 7, Dimensity 9400e mampu mencatatkan skor Geekbench 6 hingga 2.219 poin untuk single-core dan lebih dari 7.300 poin untuk multi-core.
Skor AnTuTu yang melampaui 2,1 juta poin juga menunjukkan bahwa chipset ini sudah mendekati kelas flagship. Jika Dimensity 8500 dapat dianggap sebagai raja di kelas premium mid-range, maka Dimensity 9400e adalah langkah berikutnya menuju kelas flagship sejati.
Perbedaan performanya memang cukup terasa, tetapi selisih harga perangkat yang menggunakan kedua chipset ini sering kali tidak terlalu jauh.
Apple A16 Bionic

Meskipun berasal dari ekosistem yang berbeda, Apple A16 Bionic tetap menjadi salah satu pembanding menarik untuk Dimensity 8500. Chip yang digunakan pada iPhone 14 Pro, iPhone 14 Pro Max, hingga iPhone 15 ini membuktikan bahwa efisiensi arsitektur Apple masih sangat sulit ditandingi.
A16 Bionic hanya memiliki enam inti CPU, tetapi mampu menghasilkan skor Geekbench 6 sekitar 2.630 poin untuk single-core dan 6.744 poin untuk multi-core. Angka tersebut jauh melampaui Dimensity 8500 pada performa per-core.
Keunggulan ini menunjukkan bagaimana Apple mampu memaksimalkan desain CPU kustomnya sehingga tetap kompetitif meskipun usianya sudah beberapa tahun lebih tua dibanding Dimensity 8500.
Walaupun perbandingan lintas platform tidak selalu sepenuhnya adil, fakta bahwa A16 Bionic masih mampu bersaing dengan chipset Android keluaran 2026 menjadi bukti betapa kuatnya fondasi teknologi Apple.
Kesimpulan
Dimensity 8500 menempati posisi yang sangat menarik di pasar smartphone 2026. Performanya sudah cukup mendekati beberapa chipset flagship generasi sebelumnya, bahkan mampu bersaing dengan sejumlah chip kelas atas dari Samsung, Qualcomm, Huawei, hingga Apple.
Jika mencari chipset yang paling setara, Exynos 2400e dan Snapdragon 8s Gen 4 menjadi pesaing terdekat karena memiliki kombinasi performa CPU, GPU, dan benchmark yang hampir seimbang. Sementara itu, Dimensity 9400e dan Exynos 2400 berada satu tingkat lebih tinggi, cocok bagi pengguna yang menginginkan performa ekstra tanpa harus melompat ke kelas flagship premium.
Dengan kemampuan menembus angka 2 juta poin di AnTuTu dan performa gaming yang sangat solid, Dimensity 8500 membuktikan bahwa batas antara kelas menengah premium dan flagship kini semakin tipis. Bagi pengguna yang menginginkan performa tinggi tanpa harus mengeluarkan dana besar, chipset ini menjadi salah satu pilihan terbaik yang tersedia saat ini.




